June 13th, 2010
Program Hortikultura Lewat Konsorsium
Laporan wartawan KOMPAS Hermas Effendi Prabowo
Jumat, 11 Juni 2010 | 08:57 WIB
Shutterstock
Ilustrasi

INDRAMAYU, KOMPAS.com – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura kini memiliki program baru pengembangan komoditas hortikultura seperti sayuran dan biofarmaka. Program baru pengembangan komoditas hortikultura dilakukan dalam bentuk konsorsium.

Menurut Direktur Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka pada Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Yul H Bahar, konsorsium ini melibatkan masyarakat (petani, pekebun, kelompok tani, gapoktan, LSM, dan lainnya), pelaku usaha (penangkar benih, nursery, pedagang, industriawan, dan champions), pakar (dosen, peneliti, sarjana, praktisi dari ilmu tertentu, otodidak, penyuluh dan lainnya) serta pelayan publik.

Konsorsium merupakan salah satu bentuk reformasi birokrasi yang dilakukan dalam bentuk inisiasi membangun kerja sama dan jaringan. Konsorsium yang sudah terbentuk antara lain pengembangan industri temulawak antara PT SOHO Pharmasi Industri, Ditjen Hortikultura, IPB, dan Pemda Sukabumi. Konsorsium Pengembangan Jamur Merang, Konsorsium Agribisnis Bawang Merah, Konsorsium Pa’Camat (paprika, cabai, dan tomat), serta Konsorsium Sayuran Organik Sumatera. Berbagai program yang ada sebelumnya Pengembangan Kawasan Hortikultura, Gerakan Anti Ganja, Penerapan Budidaya Pertanian yang baik GAP, Standar Operasional Prosedur; Promosi, Kampanye, Advokasi, dan Edukasi; Promosi Citra, Apresiasi, dan Cinta Hortikultura; Gema Sayuran; Fasilitas Terpadu Investasi Hortikultura.

June 13th, 2010
LIPI
Seminar Dampak Pemanasan pada Ikan
Selasa, 8 Juni 2010 | 09:03 WIB

Ilustrasi pemanasan global

TERKAIT:

BOGOR, KOMPAS.com – Dampak pemanasan global tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga berpengaruh pada eksistensi fauna ikan.

Berbagai laporan penelitian menyebutkan bahwa pemanasan global mempunyai dampak yang sangat besar terhadap kondisi ekosistem yang ada.

Permasalahan ini akan dibahas dalam Seminar Nasional Ikan VI dan Kongres Masyarakat Ikhtiologi Indonesia (MII) III yang diselenggarakan selama dua hari Selasa dan Rabu (9/6) bertempat di Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi Pusat Peneliti (P2) Biologi, LIPI, Cibinong Sciece Center (CSC).

Seminar tersebut menghadikan pembicara utama Dr Lyne R Parenti, Kurator ikan di NMNH, Smithsonian Institut, Washington DC, US.

“Dr Lyne adalah ikhtyologist wanita pertama sebagai presiden dari ASIH (Amerika Society for Ichthyology and Herpetology Society) pada tahun 2004-2006, beliau juga anggota national acedemy of sciences US National committe.

Selain Lyne ada juga Dr Gerald R Allen dan Dr Tan Heok Hui yakni kurator ikan di The Raffless Museum,” ujar Kepala Laboratorium Ichtiology Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Renny K Hadiaty, Selasa (8/6/2010).

Renny menyebutkan seminar tersebut bertujuan untuk bertukar informasi dan pengetahuan, pengalaman, diskusi dan koreksi atau saran dan koodinasi dalam kegiatan penelitian maupun pengelolaan ikan antara pada pakar, peneliti, praktisi dan pengambil kebijakan demi meningkatkan potensi, pengembangan dan pemanfaatan ikan di Indonesia secara berkelanjutan serta meminimalisasi kepunahan ikan di Indonesia.

Renny mengatakan seminar terbuka untuk umum, para pakar, peneliti, praktisi dan pemerhati ikan yang berasal dari lembaga peneliti, perguruan tinggi, instansi pemerintah terkait, breeder, eksportir ikan hias dan LSM terkait.

Pada seminar tersebut akan dibahas tentang potensi ikan di perairan Indonesia dan bagaimana memanfaatkan dan melindunginya guna meningkatkan potensi sumberdaya ikan untuk menambah devisa negara.

Renny menjelaskan, diperkirakan secara keseluruhan jenis ikan di perairan Indonesia berjumlah 4.000-6.000 jenis.

Jumlah jenis ikan air tawarnya berdasarkan koleksi yang ada di MZB sekitar 1.300 jenis sedangkan di Asia Tenggara yang valid telah diketahui sebanyak 2.917 jenis.

Kekayaan sumberdaya ikan masih sedikit dimanfaatkan, sementara itu, kerusakan ekosistem dan pemanasan global berdampak pada penurunan populasi dan keragaman jenis ikan.

“Bahkan beberapa jenis lainnya masih banyak ditemukan jenis-jenis baru yang belum pernah dilaporkan. Para ahli memperkirakan sekitar 400-600 jenis ikan lainnya dari wilayah Indonesia masih ada tetapi belum ditemukan dan dideskripsikan,” kata Renny.

Salah satu solusi untuk menghadapi kendala tersebut kata Renny adalah adanya sarana komunikasi di antara para peneliti dan praktisi pemanfaatan untuk berdiskusi, saling memberikan informasi dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.

“Karena itu, seminar ini diselenggarakan. Sehingga diperoleh suatu pembahasan dan solusi yang tepat guna,” katanya.

Seminar nasional ini kata Renny dilaksanakan secara reguler oleh MII yang sudah dilaksanakan sebanyak lima kali dan kali ini merupakan kali ke enam.

Diharapkan dari seminar tersebut dapat terbuka pertukaran informasi di antara pada peneliti maupun penentu kebijakan sehingga dapat meningkatkan potensi, pengembangan dan pemanfaatan ikan di Indonesia secara berkelanjutan serta meminimalkan kepunahan ikan di Indonesia.

<!–/ halaman berikutnya–>